kasih sempurna

kasih sempurna
kasih sempurna

Jumat, 07 Februari 2014

Guskompindo kasih lemah lembut



Guskompindo berbagi kasih Kasih itu Lemah Lembut Kasih itu Murah Hati Kasih itu Mengampuni Kasih itu Panjang Sabar Kasih itu Tidak Cemburu Kasih itu Tidak Memegahkan Diri Kasih itu Mampu Menerima apa adanya Kasih itu Selalu Menguatkan Kasih itu selalu Menghibur Kasih itu selalu Memambangun Kasih itu Selalu Bertindak bukan hanya kata-kata Kasih itu Pengorbanan Kasih itu Damai Kasih itu Sukacita Kasih itu Berkat Santa Theresia itu dari kanak-kanak Yesus yang dilahirkan di Alemon Perancis pada tgl 2 Januari 1873 memiliki nama Maria Francoise Therese Martin. Ia berasal dari keluarga beragama Katolik yang sangat saleh, pasangan suami isteri Louis Martin dan Azelie Guerin. Saat itu Ibunya meninggal waktu Theresia masih anak-anak. Sepeninggal ibu dari Theresia sangat terguncang sekali sehingga Pauline kakaknya terpaksa menggantikan peranan ibunya untuk merawat dan memperhatikan pertumbuhan Theresia. Theresia sangat disayang sekali oleh ayahnya dan mendapat berbagai julukan seperti "Theresia kecil" atau "Ratu Kecil" simanis cilik. Tahun 1881 sampai 1885 Theresia bersekolah di sekolah suster-suster Benedictin, Theresia tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang sangat perasa sekali dan sangat mudah menangis sehingga kurang akrab dengan teman-teman sekolahnya. Sifat perasa ini semakin menjadi-jadi ketika Pauline kakak perempuannya masuk biara Carmel di Lisieux tahun1882. Theresia jatuh sakit karena keberangkatan kakaknya itu, namun ia disembuhkan secara ajaib saat kakak-kakaknya berlutut dan berdoa disamping tempat tidur untuk kesembuhannya, penyakitnya itu hilang seketika meskipun sifat perasanya masih ada. Sifat perasa itu baru hilang setelah dinasihati oleh ayahnya pada perayaan Natal 1886, semenjak itu ia sadar akan sifat buruknya yang manja dan mudah tersinggung itu. Ia sadar bahwa sifat yang kekanak-kanakan itu sudah tidak sesuai lagi bagi seorang remaja puteri yang bercita-cita menjadi seorang suster. Dalam autobiografinya, Theresia menyebutkan bahwa kesadaranya ini mengawali kehidupannya yang baru, dimana Yesus telah menyembuhkannya dan menghilangkan sifat kepribadiannya yang sangat buruk. Semenjak saat itu Theresia sadar bahwa dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus, ia sadar bahwa ia harus mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kerinduaanya untuk bersatu dengan kanak-kanak Yesus sangatlah besar dan oleh karena itulah dikemudian hari ia digelari "Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus". Kepada Yesus ia berjanji tidak akan pernah segan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan darinya. Betapa bahagia hati Theresia ketika pada umur 12 tahun ia boleh menyambut komuni untuk pertama kalinya. Dihadapan sebuah salib ia berjanji : "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin agar banyak orang yang berdosa yang bertobat. Kerinduanya Theresia yang sangat besar kepada Yesus mendesak ia untuk menjalani khusus sebagai biarawati mengikuti jejak ke 4 saudaranya yang lebih dahulu menjadi biarawati, namun ia belum bisa diterima di biara karena umurnya nsaat itu barulah 14 tahun. Pada umur 15 tahun saat berziarah ke Roma bersama ayahnya, Theresia dengan meminta izin khusus dari Bapa Suci agar ia diperkenankan menjadi biarawati. Permintaannya dikabulkan dan ia masuk diterima di lingkungan biara Carmelit di Lisieux Perancis. Sembilan tahun lamanya Theresia hidup sebagai suster biasa, dan sebagaimana kebiasaanya seorang suster muda, ia setiap hari melaksanakan tugas dan doa harian, harus mengatasi perasaan marah, tersinggung, iri hati dengki , memerangi kebosanan dan berbagai ragam godaan lahir maupun batin. Untuk mencapai kesempurnaan hidup ia memilih "Jalan Sedehana" berdasarkan ajaran kitab suci yaitu hidup selaku anak kecil, penuh cinta dan iman akan kepercayaan Allah serta penyerahan diri yang total dengan penuh perasaan gembira. Demi cita-cita itu ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban sehari-hari dibiara dengan penuh tanggung jawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di surga. Ia sedih sekali melihat banyak orang menyakiti hati Yesus dengan berbuat dosa dan tidak mau bertobat. Untuk mempertobatkan orang-orang berdosa itu, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban pepulih dosa-dosa. Ia rajin berdo'a dan melakukan tapa bagi semua orang berdosa. Ia juga berdoa bagi para missionaris dan kemajuan kerajaan Allah di seluruh dunia. Theresia akhirnya menderita penyakit paru-paru yang sangat parah. Selama 2 tahun ia menanggung beban penderitaan itu dengan gembira. Penyakit ini kemudian merenggut nyawanya pada tanggal 30 September 1897 di biara Lisieux. Sebelum menghembuskan nafasnya ia berjanji untuk menurunkan hujan mawar ke dunia. Janji ini terpenuhi dengan banyaknya karunia Allah yang diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan perantaranya. Theresia meninggal dalam usia yang sangat muda 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadinya yang ditulis atas permintaan ibu biara, berjudul "Kisah Suatu Jiwa". Didalamnya ia menunjukkan bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh siapa saja, betapapun rendah, hina atau biasanya orang tersebut. Caranya ialah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cinta kasih yang murni kepada Tuhan. Pada tahun 1925 ia ditetapkan sebagai "Santa" oleh Paus Pius XI (1922-1939) dan diangkat menjadi Santa pelindung negara Perancis oleh Paus Pius XII (1939-1958) CINTA AKAN TUHAN DAN SESAMA Posted by Sumandak88 / 22:56 / Tuhan meminta tidak banyak hanya dua hal: cinta akan Tuhanmu dan cinta akan sesame manusia. Jika kedua hal itu kita laksanakan dengan sempurna, maka kita melakukan kehendakNyatuhan dengan baik Suatau tanda yang paling jelas bahwa kita dapat memenuhi keduanya dengan baik ialah bilaman kita menjalankan cinta terhadap sesama dengan baik juga. Kita tidak dapat mengetahui apakah kita mencintai Allah kita , walaupun ada banyak gejala yang menunjukkan bahwa kita mencintai Dia. Akan tetapi kita dapat betul-betul mengetahui apakah kita telah cinta sesama. Percayalah semakin kalian maju dalam hal cinta akan sesama semakin maju pula kalian dalam mencintai Allah . Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 1 Korintus 13: 4-7 Firman Tuhan sangat menekankan dalam Satu Korintus 13 adalah salah satu perikop yang paling jelas dan terkenal dari seluruh Kitab Suci, karena di dalamnya ini Rasul Paulus memberikan pelajaran yang jelas suatu penjelasan yang sangat luar biasa mengenai karakter kasih ilahi. Ia mulai dengan menunjukkan betapa pentingnya kasih iut , dengan menuliskan bahwa sekalipun kita memiliki semua jenis karunia, kemampuan, dan prestasi tetapi jika tidak memiliki kasih itu , kita sama sekali tidak ada gunanya (ayat 1-3). Kemudian, dalam ayat 4, ia menggambarkan seperti apakah kita memliki kasih ilahi itu, dengan mengatakan, “Kasih itu sabar dan murah hati”, atau, dalam rumusan terjemahan yang lebih tradisional, “Kasih itu panjang sabar dan murah hati”. Saya merasa tergugah oleh pasangan sifat ini – kesabaran dan murah hati. Mengapa Paulus menempatkan sifat ini sebagai yang pertama dalam gambarannya mengenai kasihitu, dan mengapa ia memasangkan keduanya? Paulus sangat menekankan kepada kita bahwa kasih itu sabar, ia “panjang sabar”. Saya suka terjemahan tradisional ini karena ia menyampaikan ide bahwa mengasihi orang lain itu mungkin sulit. Mengasihi orang lain berarti kita tidak lagi memusuhi mereka saat pertama kali mereka menyinggung perasaan kita. Dalam berhubungan dengan orang lain, kita cenderung untuk jauh lebih sabar terhadap orang-orang tertentu daripada terhadap orang lain. Jika seorang sahabat lama melakukan sesuatu yang menjengkelkan atau mengganggu saya, biasanya saya akan berkata, “Oh, itu memang kebiasaannya, itu adalah kepribadiannya, kita semua manusia, tidak ada satu pun dari kita yang sempurna.” Saya memberikan kelonggaran padanya. Tetapi jika saya bertemu dengan orang lain yang berlaku persis sama seperti kelakuan sahabat saya, mungkin saya tidak ingin berurusan lagi dengannya. Kita memberikan toleransi kepada sahabat kita yang tidak akan kita berikan kepada orang asing. Kasih yang panjang sabar tidak menghitung-hitung skor. Pertama kali Anda menyinggung saya, saya dapat mengatakan, “Pelanggaran pertama,” dan memberikan Anda dua kesempatan lagi sebelum Anda dicoret. Tetapi jika kasih saya panjang sabar, Anda dapat melakukan pelanggaran kedua puluh tujuh, dan saya masih akan bertahan bersama Anda. Mengapa kasih Kristiani itu panjang sabar? Itu karena orang Kristen bercermin pada Kristus, yang meniru Allah Bapa, dan panjang sabar adalah karakter utama Allah. Kitab Suci sering menyebutkan bahwa Allah lambat untuk menjadi marah, bahwa Ia panjang sabar terhadap umatnya yang tegar tengkuk. Contohnya, Allah menggambarkan diriNya seperti ini: ”TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel. 34:6). Demikian juga, Paulus berbicara tentang “kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya” (Rm. 2:4). Jika Anda adalah seorang Kristen, berapa lama Allah harus bertahan terhadap ketidak percayaan Anda sebelum Anda bertobat? Berapa lama lagi Ia telah menahan dosa-dosamu yang menetap? Jika bukan karena Allah yang “panjang sabar itu ”, kita pasti telah binasa. Jika Allah memperlakukan kita dengan ketidaksabaran yang sama seperti yang kita lakukan terhadap orang lain, saat ini kita pasti akan menderita di neraka. Ia telah bersabar terhadap ketidakpatuhan kita, penghujatan kita, ketidakpedulian kita, ketidakpercayaan kita, dan dosa kita, dan Ia masih mengasihi kita. Itulah Allah. Itulah cara-Nya mewujudkan kasih-Nya. Ia menunjukkan kasih-Nya dengan kesabaran-Nya, yaitu kesabaran yang sangat panjang. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi orang sabar tetapi untuk panjang sabar. Kita tidak bersabar pada dosa, kekurangan, dan kelemahan manusia hanya jika mereka tidak menyakiti kita. Panjang sabar berarti tetap mengasihi walaupun kita disakiti dan dilukai. Ini berarti bahwa kita tetap "mengasihi sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Ptr. 4:8). Dengan cara ini, kita mencerminkan kasih Allah, yang panjang sabar. Mengapa, kemudian, Paulus memasangkan kesabaran/panjang sabar dengan murah hati? Sangat mungkin bagi kita untuk menderita kesakitan atau permusuhan untuk waktu yang lama seraya memusuhi dan merencanakan pembalasan dendam. Tetapi bukan ini yang Kitab Suci maksud dengan panjang sabar. Panjang sabar mencakup murah hati, karena kita harus tetap murah hati dalam menanggapi penyebab penderitaan kita. Orang yang murah hati tidak kasar, tidak keras, tidak kejam. Mereka memiliki hati yang dermawan. Mereka peka dan lembut terhadap orang lain. Ayah saya, saya percaya, adalah contoh untuk sifat ini. Ia sangat baik hati. Ia menunjukkan kepada saya kebaikan Allah. Saya sangat membenci saat-saat di mana saya pulang dari sekolah dan berada dalam masalah karena suatu hal yang telah saya lakukan. Ibu saya akan berkata, “Ayahmu ingin berbicara denganmu.” Saya akan masuk ke ruang kerja ayah lalu menutup pintu, dan ia akan berkata, “Nak, kita harus berbicara.” Ia akan menghancurkan saya tanpa pernah meninggikan suaranya, tanpa pernah menyatakan kemarahannya kepada saya, dan entah bagaimana, setelah ia menghancurkan saya, ia dapat, dengan sangat lembut, menyatukan saya kembali. Setelah itu, saya akan meninggalkan ruang kerjanya dengan perasaan seperti berjalan di udara. Saya merasa bahagia, tetapi saya juga tahu bahwa saya harus bertindak lebih baik lagi di kemudian hari. Ia menginspirasi saya karena sikapnya begitu murah hati itu . Sayangnya, orang yang benar-benar murah hati itu sangatlah langka. Tetapi murah hati haruslah dihubungkan dengan panjang sabar sebagai bukti nyata kasih. Secara sederhana, kasih bukanlah tidak sabar atau tidak murah hati. Inilah gambaran kasih Allah, kasih yang sama seperti yang dipupuk oleh Roh Kudus di dalam hati umat Allah.